Sistem Pertanian Bojonegoro Rapuh, Program B’FOS Dikritik
KABUPATEN BOJONEGORO, JAWA TIMUR – Program B’FOS (Bojonegoro Farm on the Street) yang digagas pemerintah daerah menuai kritik keras. Alih-alih dianggap solusi, program ini dinilai hanya memperlihatkan rapuhnya sistem pertanian di Bojonegoro.
Kritik LSM Angling Dharma
Ketua LSM Angling Dharma, M. Nasir, menegaskan bahwa B’FOS lebih bersifat kosmetik ketimbang menyentuh akar persoalan. “Kalau petani masih harus jualan di trotoar, itu bukan inovasi. Itu bukti negara belum hadir membangun sistem pasar yang layak,” ujarnya.
Rapuhnya Distribusi dan Pasar
Nasir menilai, B’FOS tidak menyelesaikan masalah klasik petani: distribusi lemah dan ketiadaan kepastian pasar. Ia menyoroti terbatasnya pasokan produk lokal yang tampil bergiliran, sebagai sinyal tata kelola pertanian dari hulu ke hilir belum beres.
Omzet Minim, Petani Terjebak
Capaian omzet sekitar Rp3 juta per kegiatan dianggap jauh dari membanggakan. “Ini bukan prestasi, tapi indikator kecilnya akses pasar. Produk lokal belum punya daya saing dan belum ditopang sistem pemasaran yang kuat,” tegasnya.
Tuntutan Pembenahan Total
LSM Angling Dharma menekankan bahwa yang dibutuhkan petani bukan panggung CFD, melainkan kepastian ekonomi berkelanjutan. “Kalau petani masih bergantung pada CFD untuk menjual hasil panen, klaim Bojonegoro sebagai lumbung pangan patut dipertanyakan,” pungkas Nasir.