Minyak Wonocolo Bocor, Penambang Beralih ke Pengepul

Investigasi 29 Apr 2026 11:32 2 min read 118 views By SR
Minyak Wonocolo Bocor, Penambang Beralih ke Pengepul
"Minyak Wonocolo: Harga Menggoda, Jalur Resmi Terpinggirkan"

KABUPATEN BOJONEGORO, JAWA TIMUR – Minyak Wonocolo kini menjadi sorotan tajam. Jalur resmi pengelolaan sumur tua di kawasan ini berada di ujung tanduk. Penambang lebih memilih menjual hasil tambang ke pengepul ketimbang menyetor ke Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Minyak Wonocolo dan Harga yang Menggoda
Penelusuran menunjukkan adanya ketimpangan harga mencolok. Pengepul berani membeli minyak mentah di kisaran Rp5.500 hingga Rp6.000 per liter. Angka ini terpaut hingga Rp2.000 dibandingkan harga resmi BUMD.

Bagi penambang, selisih harga tersebut bukan sekadar angka, melainkan urusan perut. Seorang penambang di sumur Dandangilo, yang meminta identitasnya dirahasiakan, mengungkapkan, “Kalau selisihnya sampai Rp2.000 per liter, jelas penambang lebih memilih ke pengepul.”

Solar Pawonan, Industri Bayangan
Minyak mentah hasil bocoran tidak berhenti di tangan pengepul. Ia masuk ke dapur penyulingan tradisional yang dikenal sebagai pawonan. Di Wonocolo, dapur-dapur ini beroperasi nyaris tanpa jeda. Minyak mentah diolah menjadi solar dengan ongkos jasa Rp75.000 hingga Rp150.000 per drum.

Hasil sulingan kemudian dikonsolidasikan dalam jumlah besar. Distribusi dilakukan menggunakan truk tangki berkapasitas 8.000 liter. Seorang warga sekitar menuturkan, “Hampir tiap hari ada belasan tangki keluar masuk bawa solar.”

Peredaran Solar Murah
Setiap hari, diperkirakan 15 hingga 18 truk tangki melintas membawa solar hasil olahan. Produk ini dilepas ke pasar dengan harga sekitar Rp8.400 per liter, jauh di bawah standar industri resmi. Solar pawonan mengalir ke Semarang, Rembang, Yogyakarta, hingga Surabaya.

Pasarnya jelas: sektor industri dan transportasi laut yang membutuhkan bahan bakar murah.

BUMD Tersisih, Pengepul Menguasai
Fenomena ini menyoroti lemahnya tata kelola migas di sumur tua. Skema resmi BUMD dinilai belum mampu bersaing secara ekonomi maupun pengawasan. Bukannya menjadi garda terdepan, BUMD justru diduga tak berani menghadapi jaringan pengepul yang lebih fleksibel di lapangan.

Selama disparitas harga tetap lebar dan pengawasan belum optimal, kebocoran distribusi akan terus berlangsung. Wonocolo pun menjadi titik rawan peredaran minyak di luar jalur resmi, di mana sebagian potensi penerimaan negara beralih ke rantai distribusi nonformal.

Ekonomi Rente di Sumur Tua
Ekonomi rente di sumur tua Wonocolo menunjukkan bahwa aturan yang ada masih menghadapi tantangan serius dalam implementasi. Praktik ilegal ini bukan hanya soal keuntungan sesaat, tetapi juga soal hilangnya potensi penerimaan negara.

Chat with us on WhatsApp