Dugaan Aborsi Bojonegoro, PPNI Bungkam Publik Sorot
KABUPATEN BOJONEGORO, JAWA TIMUR – Pernyataan Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Bojonegoro, Sukir, yang mengaku tidak mengetahui adanya dugaan aborsi yang kini ditangani kepolisian, memantik sorotan publik. Ketua LSM Angling Dharma, M. Nasir, menilai sikap tersebut janggal dan menuntut klarifikasi agar tidak menimbulkan dugaan adanya upaya melindungi pihak tertentu.
Nasir menegaskan, keterbukaan informasi sangat penting agar masyarakat tidak terjebak dalam spekulasi. Ia meminta aparat penegak hukum mengusut perkara ini secara profesional dan transparan. “Kami berharap Polres Bojonegoro bertindak proporsional sehingga publik yakin proses hukum berjalan sebagaimana mestinya,” ujarnya, Jumat (12/6/2026).
Sementara itu, Sukir membantah keterlibatan dirinya maupun organisasi yang dipimpinnya. Ia mengaku sudah menelusuri informasi di lapangan, namun tidak menemukan fakta yang mengarah pada dugaan aborsi. Bahkan, ia menyatakan tidak perlu melakukan koordinasi dengan Polres Bojonegoro. Menurutnya, kabar yang beredar tidak benar.
Namun, keterangan Sukir berbeda dengan pernyataan Satreskrim Polres Bojonegoro. Kasat Reskrim AKP Cipto Dwi Leksana menegaskan pihaknya tengah menyelidiki laporan terkait dugaan aborsi. Ia menyebut, dalam waktu dekat penyidik akan memanggil tiga tenaga kesehatan yang diduga terlibat untuk mendalami peran masing-masing. “Ketiga nakes segera kami periksa,” tegasnya.
Hingga berita ini ditulis, proses penyelidikan masih berlangsung dan belum ada penetapan tersangka. Publik kini menunggu hasil resmi kepolisian untuk memastikan kebenaran perkara yang menyeret tenaga kesehatan tersebut. Misteri di balik kasus ini membuat masyarakat semakin penasaran, apakah benar ada praktik aborsi ilegal di Bojonegoro atau sekadar isu yang berkembang.