Penipuan QRIS Surabaya Dibongkar, AI Jadi Senjata

Hukum Pidana 28 May 2026 21:45 2 min read 82 views By ARIEF
Penipuan QRIS Surabaya Dibongkar, AI Jadi Senjata
"Kebenaran harus ditegakkan, teknologi jangan disalahgunakan"

SURABAYA, JAWA TIMUR – Perkembangan teknologi digital yang seharusnya memudahkan transaksi justru dimanfaatkan untuk tindak kejahatan. Seorang pria berinisial AY (25), warga Kutai, Kalimantan Timur, ditangkap aparat Polres Pelabuhan Tanjung Perak setelah diduga melakukan penipuan QRIS menggunakan aplikasi berbasis Artificial Intelligence (AI).

Polisi mengungkap, pelaku menjalankan aksinya di sebuah toko kawasan Bulak Banteng Wetan, Surabaya. Dengan memanfaatkan aplikasi AI bernama Dola, tersangka mengedit bukti pembayaran QRIS agar tampak seolah-olah transaksi berhasil. Korban berinisial IN (25), karyawan toko, mengalami kerugian mencapai Rp3,39 juta setelah melayani transaksi tarik tunai fiktif sebanyak lima kali.

Kasi Humas Polres Pelabuhan Tanjung Perak, Iptu Suroto, menyebutkan bahwa pelaku mengaku empat kali menipu dengan bukti QRIS palsu hasil editan aplikasi AI. “Aksi pertama dilakukan pada 11 Februari 2026 dengan nominal Rp370 ribu. Setelah berhasil, pelaku mengulangi perbuatannya pada Mei dengan mengganti nominal dan tanggal transaksi,” ujarnya. Polisi mencatat, AY melakukan transaksi palsu antara 20 hingga 22 Mei dengan rincian Rp550 ribu dua kali, Rp720 ribu sekali, dan Rp600 ribu sekali.

Kecurigaan pemilik toko muncul setelah melihat pola transaksi mencurigakan. Saat AY kembali datang, pemilik langsung menghubungi Polsek Kenjeran. Petugas segera mengamankan tersangka tanpa perlawanan. Dari hasil pemeriksaan, AY diketahui baru dua bulan tinggal di Surabaya dan indekos tidak jauh dari lokasi kejadian. “Ia pengangguran dan melakukan aksinya untuk mencukupi kebutuhan hidup,” jelas Suroto.

Polisi kini masih mengembangkan kasus ini untuk memastikan ada tidaknya korban lain. Meski pelaku mengaku hanya beraksi di satu toko, aparat belum menutup kemungkinan adanya tempat kejadian perkara lain di Surabaya. Kasus ini menjadi peringatan bahwa teknologi digital, termasuk AI, dapat disalahgunakan bila tidak diawasi dengan ketat.

Chat with us on WhatsApp